Jumat, 07 Februari 2014

AL HADIST SHAHIH TENTANG SABAR


 يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَ الصَّلاَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْن
(153) Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat; sesung-guhnya Allah adalah beserta  orang-orang yang sabar.


1.) Dari Atha' bin Abu Rabbah, dia berkata. "Ibnu Abbas pernah berkata kepadaku. 'Maukah kutunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni sorga ? Aku menjawab. 'Ya'. Dia (Ibnu Abbas) berkata. "Wanita berkulit hitam itu pernah mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, seraya berkata. 'Sesungguhnya aku sakit ayan dan (auratku) terbuka. Maka berdoalah bagi diriku. Beliau berkata. 'Apabila engkau menghendaki, maka engkau bisa bersabar dan bagimu adalah sorga. Dan, apabila engkau menghendaki bisa berdo'a sendiri kepada Allah hingga Dia memberimu fiat'. Lalu wanita itu berkata. 'Aku akan bersabar. Wanita itu berkata lagi. 'Sesungguhnya (auratku) terbuka. Maka berdo'alah kepada Allah bagi diriku agar (auratku) tidak terbuka'. Maka beliau pun berdoa bagi wanita tersebut". (Ditakhrij Al-Bukhari 7/150. Muslim 16/131)

2.)  Dari Ummu Al-Ala', dia berkata : "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjengukku tatkala aku sedang sakit, lalu beliau berkata. 'Gembirakanlah wahai Ummu Al-Ala'. Sesungguhnya sakitnya orang Muslim itu membuat Allah menghilangkan kesalahan-kesalahan, sebagaimana api yang menghilangkan kotoran emas dan perak". (Isnadnya Shahih, ditakhrij Abu Daud, hadits nomor 3092)

3.) Dari Sa'id bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, dia berkata. 'Aku pernah bertanya : Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling keras cobaannya ? Beliau menjawab: Para nabi, kemudian orang pilihan dan orang pilihan lagi. Maka seseorang akan diuji menurut agamanya. Apabila agamanya merupakan (agama) yang kuat, maka cobaannya juga berat. Dan, apabila di dalam agamanya ada kelemahan, maka dia akan diuji menurut agamanya. Tidaklah cobaan menyusahkan seorang hamba sehingga ia meninggalkannya berjalan di atas bumi dan tidak ada satu kesalahan pun pada dirinya". (Isnadnya shahih, ditakhrij At-Tirmidzy, hadits nomor 1509, Ibnu Majah, hadits nomor 4023, Ad-Darimy 2/320, Ahmad 1/172)

4.) Cobaan tetap akan menimpa atas diri orang mukmin dan mukminah, anak dan juga hartanya, sehingga dia bersua Allah dan pada dirinya tidak ada lagi satu kesalahanpun". (Isnadnya Hasan, ditakhrij At-Tirmidzy, hadits nomor 2510. Dia menyatakan, ini hadits hasan shahih, Ahmad 2/287, Al-Hakim 1/346, dishahihkan Adz-Dzahaby)

5.) Tidaklah seorang muslim menderita sakit karena suatu penyakit dan juga lainnya, melainkan Allah menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan penyakit itu, sebagaimana pohon yang menggugurkan daun-daunnya". (Ditakhrij Al-Bukhari, 7/149. Muslim 16/127)

6.) Dari Anas bin Malik, dia berkata. "Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata.

      "Artinya : Sesungguhnya Allah berfirman. 'Apabila Aku menguji hamba-Ku (dengan kebutaan) pada kedua matanya lalu dia bersabar, maka Aku akan mengganti kedua matanya itu dengan sorga". (Ditakhrij Al-Bukhari 7/151 dalam Ath-Thibb. Menurut Al-Hafidz di dalam Al-Fath, yang dimaksud habibatain adalah dua hal yang dicintai. Sebab itu kedua mata merupakan anggota badan manusia yang paling dicintai. Sebab dengan tidak adanya kedua mata, penglihatannya menjadi hilang, sehingga dia tidak dapat melihat kebaikan sehingga membuatnya senang, dan tidak dapat melihat keburukan sehingga dia bisa menghindarinya.)

7. Hadis riwayat Abdullah bin Qais ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada seorang pun yang lebih sabar mendengar sesuatu yang menyakitkan daripada Allah, karena meskipun mereka menyekutukan Allah serta beranggapan bahwa Allah memiliki anak, tetapi Allah tetap memberikan rezeki, kesehatan serta menganugerahkan apa yang mereka minta Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 5017

8.Dari Abu Malik al-Harits bin Ashim al-Asy'ari r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda:"Bersuci adalah separuh keimanan dan Alhamdulillah itu memenuhi imbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah itu dapat memenuhi atau mengisi penuh apa-apa yang ada di antara langit-langit dan bumi. Shalat adalah pahala, sedekah adalah sebagai tanda - keimanan bagi yang memberikannya - sabar adalah merupakan cahaya pula, al-Quran adalah merupakan hujjah untuk kebahagiaanmu - jikalau mengikuti perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya - dan dapat pula sebagai hujjah atas kemalanganmu - jikalau tidak mengikuti perintah-perintahnya dan suka melanggar larangan-larangannya. Setiap orang itu berpagi-pagi, maka ada yang menjual dirinya - kepada Allah - bererti ia memerdekakan dirinya sendiri - dari siksa Allah Ta'ala itu - dan ada yang merosakkan dirinya sendiri pula - kerana tidak menginginkan keredhaan Allah Ta'ala." (Riwayat Muslim)

9. Dari Abu Yahya, iaitu Shuhaib bin Sinan r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Amat menghairankan sekali keadaan orang mu'min itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada lagi seseorang pun melainkan hanya untuk orang mu'min itu belaka, iaitu apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, ia pun bersyukur-lah, maka hal itu adalah kebaikan baginya, sedang apabila ia ditimpa oleh kesukaran - yakni yang merupakan bencana - ia pun bersabar dan hal ini pun adalah merupakan kebaikan baginya.

HAKEKAT SABAR



 وَ لَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَ الْجُوْعِ وَ نَقْصٍ مِّنَ الْأَمَوَالِ وَ الْأنْفُسِ وَ الثَّمَرَاتِ وَ بَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ
(155) Dan sesungguhnya akan Kami beri kamu percobaan dengan se­suatu dari ketakutan dan kelaparan dan kekurangan dari harta­ benda dan jiwa-jiwa dan buah buahan; dan berilah khabar yangmenyukakan kepada orang yang sabar.

Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)

Pengertian Sabar

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Macam-Macam Sabar

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:
  1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
  2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah
  3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Sebab Meraih Kemuliaan

Di dalam Taisir Lathifil Mannaan Syaikh As Sa’di rahimahullah menyebutkan sebab-sebab untuk menggapai berbagai cita-cita yang tinggi. Beliau menyebutkan bahwa sebab terbesar untuk bisa meraih itu semua adalah iman dan amal shalih.
Di samping itu, ada sebab-sebab lain yang merupakan bagian dari kedua perkara ini. Di antaranya adalah kesabaran. Sabar adalah sebab untuk bisa mendapatkan berbagai kebaikan dan menolak berbagai keburukan. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah ta’ala, “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45).
Yaitu mintalah pertolongan kepada Allah dengan bekal sabar dan shalat dalam menangani semua urusan kalian. Begitu pula sabar menjadi sebab hamba bisa meraih kenikmatan abadi yaitu surga. Allah ta’ala berfirman kepada penduduk surga, “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.” (QS. Ar Ra’d [13] : 24).
Allah juga berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka.” (QS. Al Furqaan [25] : 75).
Selain itu Allah pun menjadikan sabar dan yakin sebagai sebab untuk mencapai kedudukan tertinggi yaitu kepemimpinan dalam hal agama. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala, “Dan Kami menjadikan di antara mereka (Bani Isra’il) para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan titah Kami, karena mereka mau bersabar dan meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah [32]: 24) (Lihat Taisir Lathifil Mannaan, hal. 375)

Sabar Dalam Ketaatan


Sabar Dalam Menuntut Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, “Betapa banyak gangguan yang harus dihadapi oleh seseorang yang berusaha menuntut ilmu. Maka dia harus bersabar untuk menahan rasa lapar, kekurangan harta, jauh dari keluarga dan tanah airnya. Sehingga dia harus bersabar dalam upaya menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-pengajian, mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang pelajaran dan lain sebagainya.
Semoga Allah merahmati Yahya bin Abi Katsir yang pernah mengatakan, “Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan”, sebagaimana tercantum dalam shahih Imam Muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang hubungannya jauh darinya, hanya karena kegiatannya menuntut ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan kecuali orang-orang yang mendapatkan anugerah ketegaran dari Allah.” (Taisirul wushul, hal. 12-13)
Sabar Dalam Mengamalkan Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, “Dan orang yang ingin beramal dengan ilmunya juga harus bersabar dalam menghadapi gangguan yang ada di hadapannya. Apabila dia melaksanakan ibadah kepada Allah menuruti syari’at yang diajarkan Rasulullah niscaya akan ada ahlul bida’ wal ahwaa’ yang menghalangi di hadapannya, demikian pula orang-orang bodoh yang tidak kenal agama kecuali ajaran warisan nenek moyang mereka.
Sehingga gangguan berupa ucapan harus diterimanya, dan terkadang berbentuk gangguan fisik, bahkan terkadang dengan kedua-keduanya. Dan kita sekarang ini berada di zaman di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita, Dialah sebaik-baik penolong” (Taisirul wushul, hal. 13)
Sabar Dalam Berdakwah
Syaikh Nu’man mengatakan, “Begitu pula orang yang berdakwah mengajak kepada agama Allah harus bersabar menghadapi gangguan yang timbul karena sebab dakwahnya, karena di saat itu dia tengah menempati posisi sebagaimana para Rasul. Waraqah bin Naufal mengatakan kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah ada seorang pun yang datang dengan membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa melainkan pasti akan disakiti orang.”
Sehingga jika dia mengajak kepada tauhid didapatinya para da’i pengajak kesyirikan tegak di hadapannya, begitu pula para pengikut dan orang-orang yang mengenyangkan perut mereka dengan cara itu. Sedangkan apabila dia mengajak kepada ajaran As Sunnah maka akan ditemuinya para pembela bid’ah dan hawa nafsu. Begitu pula jika dia memerangi kemaksiatan dan berbagai kemungkaran niscaya akan ditemuinya para pemuja syahwat, kefasikan dan dosa besar serta orang-orang yang turut bergabung dengan kelompok mereka.
Mereka semua akan berusaha menghalang-halangi dakwahnya karena dia telah menghalangi mereka dari kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan yang selama ini mereka tekuni.” (Taisirul wushul, hal. 13-14)

Sabar dan Kemenangan

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Allah ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan sungguh telah didustakan para Rasul sebelummu, maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan terhadap mereka dan mereka juga disakiti sampai tibalah pertolongan Kami.” (QS. Al An’aam [6]: 34).
Semakin besar gangguan yang diterima niscaya semakin dekat pula datangnya kemenangan. Dan bukanlah pertolongan/kemenangan itu terbatas hanya pada saat seseorang (da’i) masih hidup saja sehingga dia bisa menyaksikan buah dakwahnya terwujud. Akan tetapi yang dimaksud pertolongan itu terkadang muncul di saat sesudah kematiannya. Yaitu ketika Allah menundukkan hati-hati umat manusia sehingga menerima dakwahnya serta berpegang teguh dengannya. Sesungguhnya hal itu termasuk pertolongan yang didapatkan oleh da’i ini meskipun dia sudah mati.
Maka wajib bagi para da’i untuk bersabar dalam melancarkan dakwahnya dan tetap konsisten dalam menjalankannya. Hendaknya dia bersabar dalam menjalani agama Allah yang sedang didakwahkannya dan juga hendaknya dia bersabar dalam menghadapi rintangan dan gangguan yang menghalangi dakwahnya. Lihatlah para Rasul shalawatullaahi wa salaamuhu ‘alaihim. Mereka juga disakiti dengan ucapan dan perbuatan sekaligus.
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Demikianlah, tidaklah ada seorang Rasul pun yang datang sebelum mereka melainkan mereka (kaumnya) mengatakan, ‘Dia adalah tukang sihir atau orang gila’.” (QS. Adz Dzariyaat [51]: 52). Begitu juga Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan demikianlah Kami menjadikan bagi setiap Nabi ada musuh yang berasal dari kalangan orang-orang pendosa.” (QS. Al Furqaan [25]: 31). Namun, hendaknya para da’i tabah dan bersabar dalam menghadapi itu semua…” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Sabar di atas Islam

Ingatlah bagaimana kisah Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu yang tetap berpegang teguh dengan Islam meskipun harus merasakan siksaan ditindih batu besar oleh majikannya di atas padang pasir yang panas (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122). Ingatlah bagaimana siksaan tidak berperikemanusiaan yang dialami oleh Ammar bin Yasir dan keluarganya. Ibunya Sumayyah disiksa dengan cara yang sangat keji sehingga mati sebagai muslimah pertama yang syahid di jalan Allah. (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122-123)
Lihatlah keteguhan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu yang dipaksa oleh ibunya untuk meninggalkan Islam sampai-sampai ibunya bersumpah mogok makan dan minum bahkan tidak mau mengajaknya bicara sampai mati. Namun dengan tegas Sa’ad bin Abi Waqqash mengatakan, “Wahai Ibu, demi Allah, andaikata ibu memiliki seratus nyawa kemudian satu persatu keluar, sedetikpun ananda tidak akan meninggalkan agama ini…” (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 133) Inilah akidah, inilah kekuatan iman, yang sanggup bertahan dan kokoh menjulang walaupun diterpa oleh berbagai badai dan topan kehidupan.
Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya cobaan yang menimpa kita pada hari ini, baik yang berupa kehilangan harta, kehilangan jiwa dari saudara yang tercinta, kehilangan tempat tinggal atau kekurangan bahan makanan, itu semua jauh lebih ringan daripada cobaan yang dialami oleh salafush shalih dan para ulama pembela dakwah tauhid di masa silam.
Mereka disakiti, diperangi, didustakan, dituduh yang bukan-bukan, bahkan ada juga yang dikucilkan. Ada yang tertimpa kemiskinan harta, bahkan ada juga yang sampai meninggal di dalam penjara, namun sama sekali itu semua tidaklah menggoyahkan pilar keimanan mereka.
Ingatlah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai seorang muslim.” (QS. Ali ‘Imran [3] : 102).
Ingatlah juga janji Allah yang artinya, “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya akan Allah berikan jalan keluar dan Allah akan berikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath Thalaq [65] : 2-3).
Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran. Bersama kesempitan pasti akan ada jalan keluar. Bersama kesusahan pasti akan ada kemudahan.” (HR. Abdu bin Humaid di dalam Musnadnya [636] (Lihat Durrah Salafiyah, hal. 148) dan Al Haakim dalam Mustadrak ‘ala Shahihain, III/624). (Syarh Arba’in Ibnu ‘Utsaimin, hal. 200)

Sabar Menjauhi Maksiat

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Bersabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah, sehingga dia berusaha menjauhi kemaksiatan, karena bahaya dunia, alam kubur dan akhirat siap menimpanya apabila dia melakukannya. Dan tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena disebabkan kemaksiatan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam muhkam al-Qur’an.
Di antara mereka ada yang ditenggelamkan oleh Allah ke dalam lautan, ada pula yang binasa karena disambar petir, ada pula yang dimusnahkan dengan suara yang mengguntur, dan ada juga di antara mereka yang dibenamkan oleh Allah ke dalam perut bumi, dan ada juga di antara mereka yang di rubah bentuk fisiknya (dikutuk).”
Pentahqiq kitab tersebut memberikan catatan, “Syaikh memberikan isyarat terhadap sebuah ayat, “Maka masing-masing (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 40).
“Bukankah itu semua terjadi hanya karena satu sebab saja yaitu maksiat kepada Allah tabaaraka wa ta’ala. Karena hak Allah adalah untuk ditaati tidak boleh didurhakai, maka kemaksiatan kepada Allah merupakan kejahatan yang sangat mungkar yang akan menimbulkan kemurkaan, kemarahan serta mengakibatkan turunnya siksa-Nya yang sangat pedih. Jadi, salah satu macam kesabaran adalah bersabar untuk menahan diri dari perbuatan maksiat kepada Allah. Janganlah mendekatinya.
Dan apabila seseorang sudah terlanjur terjatuh di dalamnya hendaklah dia segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, meminta ampunan dan menyesalinya di hadapan Allah. Dan hendaknya dia mengikuti kejelekan-kejelekannya dengan berbuat kebaikan-kebaikan. Sebagaimana difirmankan Allah ‘azza wa jalla, “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan kejelekan-kejelekan.” (QS. Huud [11] : 114). Dan juga sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya.” (HR. Ahmad, dll, dihasankan Al Albani dalam Misykatul Mashaabih 5043)…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)

Sabar Menerima Takdir

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah Bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)

Sabar dan Tauhid

Syaikh Al Imam Al Mujaddid Al Mushlih Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta’ala membuat sebuah bab di dalam Kitab Tauhid beliau yang berjudul, Bab Minal iman billah, ash-shabru ‘ala aqdarillah (Bab Bersabar dalam menghadapi takdir Allah termasuk cabang keimanan kepada Allah)
Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullahu ta’ala mengatakan dalam penjelasannya tentang bab yang sangat berfaedah ini, “Sabar tergolong perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). Ia termasuk salah satu bagian ibadah yang sangat mulia. Ia menempati relung-relung hati, gerak-gerik lisan dan tindakan anggota badan. Sedangkan hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi tanpa kesabaran.
Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syari’at (untuk mengerjakan sesuatu), atau berupa larangan syari’at (untuk tidak mengerjakan sesuatu), atau bisa juga berupa ujian dalam bentuk musibah yang ditimpakan Allah kepada seorang hamba supaya dia mau bersabar ketika menghadapinya.
Hakikat penghambaan adalah tunduk melaksanakan perintah syari’at serta menjauhi larangan syari’at dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh Allah jalla wa ‘ala untuk menempa hamba-hamba-Nya. Dengan demikian ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui sarana keputusan takdir.
Adapun ujian dengan dibebani ajaran-ajaran agama adalah sebagaimana tercermin dalam firman Allah jalla wa ‘ala kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah hadits qudsi riwayat Muslim dari ‘Iyaadh bin Hamaar. Dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Allah ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengutusmu dalam rangka menguji dirimu. Dan Aku menguji (manusia) dengan dirimu’.”
Maka hakikat pengutusan Nabi ‘alaihish shalaatu was salaam adalah menjadi ujian. Sedangkan adanya ujian jelas membutuhkan sikap sabar dalam menghadapinya. Ujian yang ada dengan diutusnya beliau sebagai rasul ialah dengan bentuk perintah dan larangan.
Untuk melaksanakan berbagai kewajiban tentu saja dibutuhkan bekal kesabaran. Untuk meninggalkan berbagai larangan dibutuhkan bekal kesabaran. Begitu pula saat menghadapi keputusan takdir kauni (yang menyakitkan) tentu juga diperlukan bekal kesabaran. Oleh sebab itulah sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya sabar terbagi tiga; sabar dalam berbuat taat, sabar dalam menahan diri dari maksiat dan sabar tatkala menerima takdir Allah yang terasa menyakitkan.”
Karena amat sedikitnya dijumpai orang yang sanggup bersabar tatkala tertimpa musibah maka Syaikh pun membuat sebuah bab tersendiri, semoga Allah merahmati beliau. Hal itu beliau lakukan dalam rangka menjelaskan bahwasanya sabar termasuk bagian dari kesempurnaan tauhid. Sabar termasuk kewajiban yang harus ditunaikan oleh hamba, sehingga ia pun bersabar menanggung ketentuan takdir Allah.
Ungkapan rasa marah dan tak mau sabar itulah yang banyak muncul dalam diri orang-orang tatkala mereka mendapatkan ujian berupa ditimpakannya musibah. Dengan alasan itulah beliau membuat bab ini, untuk menerangkan bahwa sabar adalah hal yang wajib dilakukan tatkala tertimpa takdir yang terasa menyakitkan. Dengan hal itu beliau juga ingin memberikan penegasan bahwa bersabar dalam rangka menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan hukumnya juga wajib.
Secara bahasa sabar artinya tertahan. Orang Arab mengatakan, “Qutila fulan shabran” (artinya si polan dibunuh dalam keadaan “shabr”) yaitu tatkala dia berada dalam tahanan atau sedang diikat lalu dibunuh, tanpa ada perlawanan atau peperangan. Dan demikianlah inti makna kesabaran yang dipakai dalam pengertian syar’i.
Ia disebut sebagai sabar karena di dalamnya terkandung penahanan lisan untuk tidak berkeluh kesah, menahan hati untuk tidak merasa marah dan menahan anggota badan untuk tidak mengekspresikan kemarahan dalam bentuk menampar-nampar pipi, merobek-robek kain dan semacamnya. Maka menurut istilah syari’at sabar artinya: Menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari marah dan menahan anggota badan dari menampakkan kemarahan dengan cara merobek-robek sesuatu dan tindakan lain semacamnya.
Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Di dalam al-Qur’an kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan”
Perkataan beliau “Bab Minal imaan, ash shabru ‘ala aqdaarillah” artinya: salah satu ciri karakteristik iman kepada Allah adalah bersabar tatkala menghadapi takdir-takdir Allah. Keimanan itu mempunyai cabang-cabang. Sebagaimana kekufuran juga bercabang-cabang.
Maka dengan perkataan “Minal imaan ash shabru” beliau ingin memberikan penegasan bahwa sabar termasuk salah satu cabang keimanan. Beliau juga memberikan penegasan melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yang menunjukkan bahwa niyaahah (meratapi mayit) itu juga termasuk salah satu cabang kekufuran. Sehingga setiap cabang kekafiran itu harus dihadapi dengan cabang keimanan. Meratapi mayit adalah sebuah cabang kekafiran maka dia harus dihadapi dengan sebuah cabang keimanan yaitu bersabar terhadap takdir Allah yang terasa menyakitkan”

AKAR NAMA NAMA CINTA"(MAHABBAH)

Menurut suatu pendapat, makna asal mahabbah adalah jernih, karena orang Arab menyebut gigi yang putih lagi bersih dengan sebutan hababul asnan. Menurut pendapat yang lain, makna asalnya diambil dari al-habaab yang jartinya gelembung yang timbul di permukaan air manakala hujan sangat lebat. Berdasarkan pengertian ini, mahabbah berarti gelora kalbu saat terguncang oleh kerinduan untuk bersua dengan sang kekasih. Menurut pendapat yang lain, mahabbah berakar dari makna tetap dan mapan. Dikatakan ahabbal ba’iiru apabila seekor unta tetap mendekam (menderumkan dirinya) dan tidak mau bangkit, seperti pengertian yang disebutkan oleh Abu Muhammad Al-Faq’asi dalam bait syairnya:
Kautimpakan pukulan bertubi-tubi pada keledaimu di padang sahara
seperti memukul unta yang mendekam tidak mau bangkit
Seakan-akan orang yang dicintai menetap dan bersemi di dalam kalbu orang yang mencintainya tanpa mau beranjak darinya. Pendapat lain menyebutkan hal lainnya, yaitu berasal dari kegelisahan dan keguncangan. Oleh karena itulah, anting-anting disebut hibbun karena selalu bergoyang dan bergetar di telinga, seperti yang dikatakan oleh seorang penggembala dari Bani Numair dalam bait syairnya:
Semalaman ular derik berada di dekatnya
seraya menggoyangkan ekornya memperdengarkan suara deriknya
Pendapat lain menyebutkan bahwa sebenarnya mahabbah diambil dari kata habbun bentuk jamak dari habbatun, artinya benih sesuatu dan asal mulanya, karena sesungguhnya habbun adalah bibit tanaman dan pepohonan. Pendapat yang lainnya lagi menyebutkan bahwa cinta berasal dari hubbun yang mengandung arti bejana besar yang penuh berisi sesuatu sehingga tidak dapat memuat lainnya lagi. Begitu pula halnya kalbu orang yang dimabuk asmara, tidaklah ia memuat selain orang yang dicintainya. Pendapat yang lain menyebutkan bahwa cinta berasal dari kata hubbun yang artinya penopang sesuatu yang berbentuk empat buah dari batang kayu untuk menyangga kendil atau wadah lainnya. Oleh karena itulah, cinta disebut hubbun karena orang yang dimabuk cinta dapat menahan beban berat demi orang yang dicintainya, sebagaimana penopang kayu dapat menahan wadah yang diletakkan di atasnya. Menurut pendapat lainnya lagi, bahwa cinta berasal dari buah hati yang artinya kandungan lubuknya yang paling dalam. Pengertiannya mirip dengan apa yang dikatakan oleh mereka zhoharohu apabila mengenai punggungnya; ro-asahu apabila mengenai kepalanya; ro-aahu apabila mengenai paru-parunya; dan bathonahu apabila mengenai perutnya. Akan tetapi, makna semua kata kerja tersebut mengandung arti mengenanya pengaruh yang ditimbulkan oleh fa’il (pelaku) kepada maf’ul (objek) yang dikenainya; berbeda halnya dengan mahabbah atau cinta, maka pengaruhnya hanyalah dirasakan oleh pelakunya yang dimabuk asmara.
Sesudah itu perlu diketahui bahwa kata cinta dalam bahasa Arabnya mempunyai dua dialek, yaitu habba dan ahabba, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Ghailan bin Syuja’ an-Nahsyali dalam bait syairnya:
Kusukai Abu Marwan karena buah kurmanya
dan kusadari bahwa sikap lemah-lembut kepada seseorang akan berbuah kasih sayang
Padahal demi Allah, seandainya dia tidak punya buah kurma, tentulah aku tidak menyukainya,
bahkan dia kuanggap tak ubahnya seperti ‘Ubaid dan Musyriq.
Hal yang sama telah dikatakan oleh al-Jauhari dalam bait syair gubahannya yang menghimpun kedua dialek ini. Akan tetapi, ditinjau dari fi’il (kata kerja) dan fa’il-nya (subjeknya), mereka lebih banyak menggunakan fi’il ruba’i (kata [kerja] yang terdiri dari empat huruf). Untuk itu, mereka sebutkan kata kerjanya ahabba dan yuhibbu, sedang untuk subjeknya adalah mihibbun. Adapun ditinjau dari maf’ul-nya (objeknya), mereka lebih banyak menggunakan kata kerja yang berasal dari tiga huruf; untuk itu, mereka mengatakan mahbuubun bukan muhabbun, kecuali hanya jarang seperti dalam ucapan penyair berikut:
Sesungguhnya engkau telah turun istirahat,
maka janganlah engkau mengira diriku
seperti orang yang layak untuk dicintai dan dihormati.
Ini berasal dari kata kerja af’ala. Adapun kata habiib, maka mereka banyak menggunakannya untuk arti orang yang dicintai, seperti dalam ucapan seorang penyair:
Aku mengunjungi Laila bukan karena ingin agar dia mencintaiku
dan bukan pula karena menagih utangku.
Akan tetapi, ada kalanya mereka menggunakannya untuk makna muhibbun, orang yang mencintai, seperti yang terdapat dalam ucapan penyair berikut:
Tidaklah sekali-kali jiwa ini berpaling darimu karena kurangnya perhatiannya kepadamu
dan tidak pula karena kamu tidak berada dalam hatinya.
Akan tetapi, mereka, wahai manusia yang paling baik,
jika aku datang kepadamu, pasti memberikan komentarnya: “Orang ini mencintainya.”
Namun demikian, lafazh ini bisa saja diartikan mahbub (orang yang dicintai) dan bisa pula diartikan muhibbun (orang yang mencintai).
Adapun mengenai lafazh hibbun dengan huruf ha yang dikasrahkan, maka ini merupakan salah satu dialek dari dialek yang artinya sama dengan hubbun (cinta) dan kebanyakan penggunaannya bermakna mahbuubun (orang yang dicintai). Dalam kamus Ash-Shihaah disebutkan bahwa hubbun, mahabbatun, begitu pula hibbun dengan kasrah. Lafazh hibbun juga mempunyai arti habiibun, seperti khidnin (teman) menjadi khodiin. Menurut hemat saya, sama dengan dzibhun (sembelihan) yang berarti madzbuuhun (yang disembelih), nihbun (yang dirampok) yang berarti manhuubun, dan risyqun (yang ditembak) yang berarti marsyuuqun. Termasuk ke dalam bab ini lafazh sibbun yang dapat digunakan, baik untuk isim fa’il maupun isim maf’ul. Abu ‘Ubaid mengatakan bahwa as-sibbu dengan kasrah artinya banyak mencela. Al-Jauhari mengatakan: “Sibbukalladzii yusaabbuka,” artinya kamu dicaci karena banyak mencaci. Hassan mengatakan dalam salah satu bait syairnya:
Jangan sekali-kali engkau mencaciku, aku bukanlah orang yang pantas untuk dicaci,
sesungguhnya yang layak mencaciku hanyalah orang-orang yang mulia.
Yang benar nama penyairnya adalah ‘Abdur Rahman bin Hassan. Penggunaan lafazh hibbun ini ada kalanya dipersekutukan oleh bentuk mashdar dan bentuk isim maf’ul-nya, seperti rizqun. Mereka memberi harakat dhammah pada huruf ha bentuk mashdarnya, karena mengandung faidah yang lembut. Demikian itu karena harakat kasrah lebih ringan diucapkan oleh lisan daripada harakat dhammah, sedang lafazh mahbuubun (orang yang dicintai) terasa lebih berkenan dalam hati daripada lafazh hubbun, maka mereka membubuhkan harakat yang ringan untuk memberikan makna yang ringan dan harakat yang berat untuk makna yang berat. Dikatakan ahabbahu, hubban, dan mahabbatan, selanjutnya lafazh mahbuubun menjadi induk dalam istilah ini.

1. AL-MAHABBAH (cinta)

Banyak pendapat yang dikemukakan di kalangan ahli bahasa sehubungan dengan definisi mahabbah alias cinta ini.
a. Cinta adalah kecenderungan permanen yang dialami oleh kalbu orang yang dimabuk asmara.
b. Cinta adalah sikap memprioritaskan orang yang dikasihi lebih dari semua teman.
c. Cinta ialah menuruti kemauan yang dicintai, baik di hadapannya maupun di belakanganya.
d. Cinta adalah kesamaan kehendak antara pihak yang mencintai dan pihak yang dicintai dalam hal selera.
e. Cinta ialah menyajikan pelayanan disertai dengan menjaga kesucian.
f. Cinta ialah banyak berkorban untuk orang yang Anda cintai dan enggan merepotkan orang yang Anda cintai.
g. Cinta ialah bilamana kalbu seseorang selalu ingat kepada orang yang dicintainya.
h. Cinta pada hakikatnya ialah bila Anda menyerahkan diri Anda secara total kepada orang yang Anda cintai tanpa menyisakan barang sedikit pun bagi diri Anda.
i. Cinta ialah bilamana kalbu Anda tidak mengingat apa pun selain orang yang Anda cintai.
j. Cinta ialah kecemburuan yang muncul dalam kalbu bila kehormatan kekasih ada yang melecehkan, dan cemburu bila hati kekasih diberikan kepada orang lain.
k. Cinta adalah maksud hati yang tidak berkurang meskipun dijauhi dan tidak bertambah meskipun didekati.
l. Cinta ialah memelihara kesetiaan.
Oleh karena itu, tidaklah benar orang yang mengakui cinta kepada seseorang, sedang dia tidak memelihara kesetiaannya.
m. Cinta ialah bilamana Anda mau melakukan apa yang disukai oleh orang yang Anda cintai.
n. Cinta ialah menjauhi hiburan dalam keadaan apa pun.
Seorang penyair mengungkapkan:
Barangsiapa yang merasakan hiburan karena telah lama dimabuk asmara,
maka sesungguhnya cintaku kepada Laila belum pernah merasakannya.
Kebanyakan dari apa yang kuperoleh untuk berhubungan dengannya hanyalah angan-angan belaka
yang tidak pernah terujudkan seperti halnya kilauan cahaya kilat.
o. Cinta adalah emosi yang membakar kalbu terhadap selain yang disukai oleh sang kekasih.
p. Cinta ialah ingatan kepada sang kekasih dalam setiap helaan nafas.
Mutanabbi mengungkapkan:
Ingin rasanya melupakanmu dalam kalbu ini, tetapi apa daya
naluri enggan untuk beralih ingatan ke yang lain
q. Cinta ialah bila kalbu yang bersangkutan tidak mau memandang, kecuali kepada orang yang dicintai, dan telinganya tidak mau mendengar teguran orang-orang yang mencela kecintaannya.
Dalam sebuah hadits disebutkan:
Kecintaanmu kepada sesuatu akan membuatmu buta dan tuli.” (Diketengahkan oleh Ahmad melalui Abu Darda’ dalam kitab Musnad-nya dan Abu Dawud dalam kitab al-Adab-nya)
r. Cinta ialah kecenderungan hati Anda kepada sang kekasih secara total, sehingga membuat Anda lebih memprioritaskan dia di atas kepentingan jiwa, raga, dan harta benda Anda; lahir dan batin Anda selalu bersesuaian dengannya, namun demikian Anda menyadari bahwa kecintaan Anda kepadanya masih belum maksimal.
s. Cinta ialah bilamana Anda mengorbankan semua jerih-payah Anda demi memuaskan hati sang kekasih.
t. Cinta ialah ketenangan tanpa kecguncangan dan keguncangan tanpa ketenangan.
Kalbu selalu berguncang dan tidak pernah mnerasa tenang kecuali dengan sang kekasih. Kalbu selalu berguncang karena rindu kepada sang kekasih dan baru merasa tenang bila berada [dekat] dengannya. Pengertian inilah yang dimaksud oleh sebagian di antara mereka (ahli tashawwuf) yang mengatakan bahwa cinta ialah gerakan kalbu yang terus-menerus karena selalu ingat kepada sang kekasih dan baru merasa tenang bila berada di dekatnya.
u. Cinta ialah keinginan menemani sang kekasih untuk selamanya.
Seorang penyair mengungkapkan:
Sungguh aneh diriku, mengapa merindukan mereka dan menanyakan kepada siapa pun
yang kujumpai tentang mereka, padahal mereka selalu bersamaku dalam hatiku
Pandangan mataku senantiasa mencari mereka, padahal mereka berada di dalam yang hitam dari bola mataku,
kalbuku selalu merindukan mereka, padahal mereka berada di dalam dadaku
v. Cinta ialah bilamana sang kekasih terasa lebih dekat oleh orang yang mencintainya daripada jiwanya sendiri.
Seorang penyair mengutarakan:
Wahai belahan hati dan jiwaku, meskipun jauh dari mata dan penglihatanku, engkau adalah jiwaku meskipun aku tak melihatnya
Engkau bagiku lebih dekat daripada segala yang dekat dalam diriku
w. Cinta ialah bila sang kekasih selalu berada dalam ingatan orang yang mencintainya.
Seorang penyair mengungkapkan:
Bayanganmu selalu di mataku, mulutku selalu menyebutmu,
dan kau selalu di hatiku, mana mungkin engkau terlupakan olehku
x. Cinta ialah bilamana orang yang jatuh cinta merasakan bahwa tidak ada bedanya antara dekat dan jauhnya rumah sang kekasih.
Seorang penyair mengatakan:
Wahai orang yang bersemayam dalam diri dan rongga dadaku, meskipun rumahnya jauh dariku
Kasihanilah orang yang jatuh cinta tergila-gila kepadamu;
jika tidak kauhubungi dia, niscaya akan hancur berkeping-kepinglah dirinya
Dia tak mampu sadar dari kecintaannya;
Setiap kali mereka menghalanginya darimu, tercabik-cabiklah semua tirai yang menghalanginya
y. Cinta ialah kesetiaan kalbu untuk tetap merindukan sang kekasih, tanpa mempedulikan celaan dan cacian yang mengecam sikapnya, bahkan hal itu terasa menyenangkan baginya.
Abuss Syiish mengungkapkan melalui bait-bait syair berikut:
Cintaku selalu mengikuti kemauanmu, tanpa ada perasaan apakah aku diacuhkan ataukah diperhatikan
Bila kaulecehkan diriku, aku berupaya keras untuk bersikap sabar, bagiku tidak penting apakah engkau menolah cintaku atau menerimanya
Sikapmu kepadaku mirip dengan musuh-musuhku sehingga aku menyukai mereka
mengingat perlakuan yang kuperoleh darimu sama dengan perlakuan yang kuperoleh dari mereka
Kurasakan celaan orang lain karena mencintaimu begitu menyenangkan,
sebab begitu tulusnya cintaku kepadamu, maka biarkanlah celaan orang-orang yang suka mencela
Kurasakan celaan karena mencintaimu begitu menyenangkan,
karena suka dengan sebutanmu, maka biarkanlah celaan orang-orang yang suka mencela

2. Al-’Alaqoh (ketergantungan)

Al-’Alaqoh berakar dari kata al-’alaq alias gantungan, memakai wazan al-falaq, merupakan salah satu dari nama lain cinta. Al-Jauhari telah mengatakan bahwa al-’alaq juga merupakan nama lain dari cinta. Dikatakan nazhrotun min dzil-’alaq artinya pandangan dari orang yang jatuh cinta. Ibnu Daminah mengatakan dalam sebuah bait syairnya:
Ingin rasanya hatiku melupakanmu, tetapi apa daya
ketergantungan hatiku kepadamu telah mengakar sejak lama
Terkadang dibaca dengan lam fi’il yang dikasrahkan hingga menjadi al-’aliq; dikatakan ‘aliqa hubbuha bi qolbihi artinya kecintaan kepadanya telah terpaut dalam kalbunya. Cinta disebut hubungan, karena kalbu orang yang bersangkutan telah terpaut kepada si dia. Sorang penyair bernama Al-Mirar Al-Faq’asi telah mengatakan dalam bait syairnya:
Apakah karena keterpautan hatimu dengan Ummul Wulaid,
padahal semua rambut kepalamu yang hitam telah berubah menjadi putih?

3. Al-Hawa (kecenderungan hati)

Kecenderungan hati kepada sesuatu disebut al-hawa. Bentuk kata kerjanya ialah hawiya, yahwa, hawan, semisal dengan ‘amiya, ya’ma, ‘aman. Berbeda halnya jika dikatakan hawaa yahwi dengan ‘ain fi’il yang difat-hahkan, maka artinya jatuh, bukan cenderung; bentuk mashdarnya al-huwiyyu dengan ha yang dibaca dhammah.
Al-hawa berarti pula diri sang kekasih, seperti yang disebutkan dalam ucapan seorang penyair:
Sesungguhnya wanita yang mengira bahwa hatimu telah bosan kepadanya
dirimu pun telah diciptakan sebagaimana dirinya diciptakan
Pendapat yang lain mengatakan bahwa bila hawa fulanah hawaahu, artinya si Fulanah adalah wanita yang disukai dan dicintainya. Kebanyakan kata al-hawa digunakan untuk menunjukkan makna cinta yang tercela, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:
Dan adapun orang-orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal[nya]. (QS An-Naazi’aat [79]: 40-41)
Menurut pendapat yang lainnya lagi, bahwa sesungguhnya hawa nafsu disebut al-hawa tiada lain karena ia menjerumuskan pelakunya.
Akan tetapi, ada kalanya digunakan dalam pemakaian yang terbatas untuk menunjukkan makna cinta yang terpuji, seperti yang terdapat dalam sabda Nabi saw. yang mengatakan:
Masih belum beriman seseorang di antara kamu sebelum kecenderungannya mengikuti apa yang disampaikan olehku. (Diketengahkan oleh Al-Baghawi dalam Syarhus sunnah 1/213, Attabrizi dalam Misykatul Mashoobih 167, Ibnu Abu ‘Ashim dalam As-Sunnah 1/12, Al-Muttaqil al-Hindi dalam Kanzul ‘ummal 1084, Ibnu Hajar dalam Fat-hul Bari 13/289, dan Al-Khotib dalam Tarikh Baghdad 4/369)
Dalam kitab Shahihain disebutkan bahwa dahulu Khaulah binti Hakim termasuk wanita yang menghibahkan dirinya kepada Nabi saw. maka ‘Aisyah r.a. berkata: “Tidakkah merasa malu seorang wanita menyerahkan dirinya kepada seorang lelaki?” ketika turun firman-Nya:
Kamu boleh menangguhkan (menggauli) siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (istri-istrimu). (QS Al-Ahzaab [33]: 51)
Aku (‘Aisyah) berkata: “Wahai Rasulullah, menurut hemat saya, tiada lain Tuhanmu kecuali hanya bersegera memperturutkan kesukaanmu.”
Dalam kisah para tawanan perang Badar disebutkan bahwa ‘Umar ibnul Khaththab r.a. berkata: “Ternyata Rasulullah lebih menyukai pendapat Abu Bakar dan tidak menyukai pendapatku,” hingga akhir hadits. (Diketengahkan oleh Muslim dalam Al-Jihad hadits no. 58, dan Ahmad dalam kitab Musnadnya, 1/31-32.)
Dalam Kitabus Sunan disebutkan bahwa seorang Arab pedalaman bertanya kepada Nabi saw.: “Aku datang kepadamu untuk menanyakan tentang kecintaan.” Nabi saw. menjawab:
Seseorang akan [dihimpunkan] bersama dengan orang yang dicintainya. (diketengahkan oleh Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ad-Darimi, dan Ahmad)

4. Ash-Shobwah (Kerinduan)

Ash-shobwah dan ash-shibaa termasuk nama lain dari cinta juga. Dalam kamus Ash-Shihah disebutkan bahwa ash-shibaa termasuk nama lain dari rindu. Dikatakan tashoobaa, washoban, yashbuu shobwatan, dan shubuwwan maknanya cenderung pada kebodohan. Ashbat-hul jaariyah artinya gadis itu telah membuatnya seperti orang bodoh. Shobiya shoba-an semisal dengan sami’a samaa’an (mendengar), artinya dia bermain-main bersama anak-anak kecil.
Menurut henmat saya, makna asal lafazh ini ialah cenderung. Dikatakan shobaa ilaa kadzaa artinya dia cenderung kepada anu. Shobwah diartikan demikian karena pelakunya cenderung pada wanita yang muda. Bentuk jamaknya ialah shobayaa, seperti mathiyyah (tunggangan) yang bentuk jamaknya ialah mathooyaa. At-Tashoobii artinya dilanda kerinduan, seperti at-tamaayul (kecenderungan) dan seterusnya yang ada dalam babnya

Kamis, 06 Februari 2014

MAKNA DARI KATA MAHABBAH


AL MAHABBAH merupakan salah satu dari istilah-istilah cinta dari 50 kategori yang tersebut dalam buku 'taman orang-orang jatuh cinta dan memendam rindu' karya Ibnu qayyim al jauziyah. al-Mahabbah (kasih sayang) makna asalnya adalah bening/bersih.

Bangsa Arab menyebut istilah bening ini untuk gigi yang putih. Ada pendapat lain yang diambil dari kata al-habbab aitu air yang meluap setelah turun hujan yang lebat. Dari sini dapatlah diertikan bahawa al-Mahabbah adalah luapan hati dan gejolaknya saat dirundung keinginan untuk bertemu dengan sang kekasih. Ada pula yang mengertikan tenang dan teguh seperti unta yg tenang dan tidak mahu bangun lagi setelah duduk.

jadi seakan-akan orang yang mencintai itu telah mantap hatinya terhadap orang yang dicintai dan tidak terlintas untuk beralih darinya. Tapi ada juga yang mengertikan sebaliknya iaitu gundah dan tidak tetap. Maka itu anting-anting di sebut dengan kata hiba, kerana ia tidak pernah diam (tak bergerak-gerak) atau tetap berada di telinga.

Seorang penyair berkata :

“Ular tidak pernah diam di tempat siap menerkam.”

Ada pula yang berpendapat bahawa kata al-Mahabbah berasal dari al-habbu ertinya inti sesuatu, biji tanaman atau pepohonan dan asal muasalnya. Ada juga yang mengertikannya gelas besar untuk mencampur sesuatu agar muat dengan banyak. Hati orang yang mencintai tidak mempunyai tempat yang lapang kecuali bagi orang yang dicintainya.

Ada pula mengertikan usungan bejana atau lainnya, yang menjamin keamanannya. Cinta diertikan seperti ini kerana orang yang mencintai mahu memikul beban yang berat demi orang yang dicintainya. Seperti usungan yang dibebani barang yang di letakkan di atasnya.

Ada yang lain pula yang berpendapat, kata ini berasal dari ulu hati. Cinta dinamakan seperti ini kerana cinta itu mampu sampai ke ulu hatinya. Hal ini serupa dengan kata pepatah, "Menunggungi jika punggung beradu punggung, menggepalai jika kepala beradu kepala, membatin jika batin beradu batin" namun perbuatan ini terjadi jika kedua belah pihak saling aktif. Sedangkan dalam cinta, pengaruhnya saja yang sampai kepada orang yang di cintai.

Seorang penyair mengatakan :

“kini engkau sudah datang
dan jangan engkau ragukan
diriku sebagai orang yang layak dicintai
dan memiliki kehormatan diri”

Kata al-Mahabbah (orang yang dicintai) berasal dari kata kerja af'ala sedangkan 'habib' lebih banyak digunakan dengan pengertian al-Mahabah (yang dicintai).

Seorang penyair mengatakan :

“Kuhampiri malam hari
agar menjadi kekasih hati,
tiada hutang yang ada
justeru aku mencarinya”

Namun kadangkala mereka juga menggunakan kata itu dengan pengertian al-muhibb (orang yang mencinta). Jika kata habib boleh diertikan orang yang dicintai dan boleh juga diertikan orang yang mencintai. Sedangkan kata al-hibbu dengan mengkasrahkan huruf ha’ juga sama artinya dengan al-hubbu.

Banyak pendapat tentang batasan makna al-Mahabbah antaranya :
  • Ada yang berpendapat ertinya adalah kecenderungan secara terus menerus dengan disertai hati yang meluap-luap.
  • Ada yang berpendapat ertinya mendahulukan kepentingan orang yang dicintai ketimbang hal-hal lain di sekitarnya.
  • Ada yang berpendapat ertinya menuruti keinginan orang yang dicintai, baik tatkala kekasih ada di sampingnya atau tidak ada di sampingnya.
  • Ada yang berpendapat ertinya menyatukan keinginan orang yang mencintai dan dicintai.
  • Ada yang berpendapat ertinya mendahulukan keinginan orang yang dicintai.
  • Ada yang berpendapat ertinya pengabdian.
  • Ada yang berpendapat, ertinya menyedikitkan yang banyak dan memperbanyak yang sedikit demi orang yang dicintai.
  • Ada yang berpendapat, ertinya hati yang mencintai tak terbendung untuk tidak mengingat orang yang di cintai. 
  • Ada yang berpendapat, ertinya yang hakiki ialah menyerahkan apapun yang ada pada dirimu kepada orang yang dicintai, sehingga tak ada lagi yang tersisa.
  • ada yang berpendapat ertinya engkau harus menyingkirkan apa pun yang ada di dalam hatinya kecuali orang yang di cintai.
  • ada yang berpendapat, ertinya kecemburuan terhadap orang yang di cintai, seandainya kehormatannya ada yang berkurang.
  • ada yang berpendapat, ertinya bara yang membakar hati kerana keinginan orang yang dicintai.
  • ada pula yang berpendapat, ertinya mengingat sang kekasih sebanyak nafas yang berhembus,
Sebagaimana yang dikatakan penyair :

“Dia ingin engkau lalai
namun ingatan tetap terpatri.”
  • Ada yang berpendapat ertinya hati yang buta untuk melihat selain orang yang dicintai serta tuli untuk mendengar selainnya.
Seperti yang di katakan dalam syair :

“Khubbu lisai’in yu’mi wa yusim”
(kecintaan kepada sesuatu bisa membuat buta dan tuli.)
  • Ada pula yang berpendapat, ertinya kecenderungan secara menyeluruh pada orang yang dicintai, kemudian engkau mengikutinya secara sembunyi atau terang-terangan.
  • Ada yang berpendapat, ertinya usahamu untuk membuat sang kekasih redha.
  • Ada yang berpendapat ertinya : tenang tapi gundah, gundah tapi tenang, hati menjadi gundah kecuali setelah berdekatan dengan sang kekasih, hati menjadi gundah kerana rindu kepadanya, dan menjadi tenang tatkala berdekatan dengannya. inilah makna perkataan mereka al-mahabbah adalah gerakan hati yang tiada henti mengingat sang kekasih dan ketenangannya tatkala bersanding dengannya.
  • Ada yang berpendapat, ertinya berdampingan dengan orang yang dicintai selama-lamanya.
Seperti yang dikatakan dalam syair :

“Aku merasa aneh terhadap diriku
kerana aku mencintai mereka
ku tanya setiap orang berlalu
padahal mereka bersanding bersama
mataku mencari-cari selalu
padahal mereka tetap di tempatnya
hatimu dirundung rindu
padahal mereka ada di antara tulang rusuk.”
  • ada yang berpendapat, ertinya orang yang dicintai harus lebih dekat dengan orang yang mencintai, ketimbang rohnya sendiri.
Seperti yang di katakan dalam sebuah syair :

“Wahai yang bersemayam di dalam rasa dan diriku
engkau jauh dari penglihatan dan pandangan
engkau adalah rohku jika aku tak memandangmu
dia lebih dekat denganku dari segala yang berdekatan.”
  • ada pula yang berpendapat, ertinya keinginan agar yang dicintai selalu hadir disisi orang yang mencintai.
Seperti yang dikatakan dalam sebuah syair :

“Angan-angan tentang dirimu ada di mataku
ingatan tentang dirimu ada di mulutku
tempat kembalimu ada di mulutku
tapi kemanakah engkau hilang dariku?”
  • ada yang berpendapat, ertinya harus ada keseimbangan antara jauh dan dekatnya orang yang dicintai dengan orang yang mencintai.
Sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah syair :

“Wahai yang bersemayam di antara perut dan rusuk
sekalipun tempat tinggalnya berjauhan dariku
kasih sayang tercurah untuk senantiasa mencinta
jika engkau tiada menggapainya ia akan membumbung.”
  • ada yang berpendapat, ertinya keteguhan hati terhadap orang yang dicintai dalam menghadapi canda dan menganggap kritikan serta celaan sebagai angin lalu semata.
Sebagaimana yang dikatakan dalam syair :

“Keteguhanku berdiri tegar bersama dirimu
aku tiada peduli yang datang dahulu atau kemudian
engkau membuatku tak peduli dan memang aku begitu
terhadap orang yang menghinamu atau memuliakan
ku cintai mereka seakan-akan engkau musuhku
bersamamu dan bersama mereka sama-sama ada kebahagiaan
ada kenikmatan kerana celaan mereka kerana mencintaimu
biarkan mencercaku mereka yang suka melancarkan cercaan.”

MAWADAH,MAHABBAH

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)
Perasaan cinta kepada pasangan hidup kita terkadang mengalami gejolak sebagaimana pasang surut yang dialami sebuah kehidupan rumah tangga. Tinggal bagaimana kita menjaga tumbuhan cinta itu agar tak layu terlebih mati.
Satu dari sekian tanda kebesaran-Nya yang agung, Allah I menjadikan anak Adam u memiliki pasangan hidup dari jenis mereka sendiri, sebagaimana kenikmatan yang dianugerahkan kepada bapak mereka Adam u. Di saat awal-awal menghuni surga,  bersamaan dgn limpahan kenikmatan hidup yang diberikan kepadanya, Adam u hidup sendiri tanpa teman dari jenisnya. Allah I pun melengkapi kebahagiaan Adam dgn menciptakan Hawa sebagai teman hidupnya, yang akan menyertai hari-harinya di surga nan indah.
Hingga akhirnya dgn ketetapan takdir yang penuh hikmah, keduanya diturunkan ke bumi utk memakmurkan negeri yang kosong dari jenis manusia (karena merekalah manusia pertama yang menghuni bumi). Keduanya sempat berpisah selama beberapa lama karena diturunkan pada tempat yang berbeda di bumi (Al-Bidayah wan Nihayah, 1/81). Mereka didera derita & sepi sampai Allah I mempertemukan mereka kembali.
Demikianlah Allah I menutup “sepi” hidup-nya seorang lelaki keturunan Adam dgn memberi istri-istri sebagai pasangan hidupnya. Dia Yang Maha Agung berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan utk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung & merasa tenteram kepadanya, & dijadikan-Nya di antara kalian mawaddah & rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Ruum: 21)
Allah I menciptakan seorang istri dari keturunan anak manusia, yang asalnya dari jenis laki-laki itu sendiri, agar para suami merasa tenang & memiliki kecenderungan terhadap pasangan mereka. Karena, pasangan yang berasal dari satu jenis termasuk faktor yang menumbuhkan adanya keteraturan & saling mengenal, sebagaimana perbedaan merupakan penyebab perpisahan & saling menjauh. (Ruhul Ma’ani, 11/265)
Allah I juga berfirman:
“Dialah yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu & Dia jadikan dari jiwa yang satu itu pasangannya agar ia merasa tenang kepadanya…” (Al-A’raf: 189)
Kata Al-Hafizh Ibnu Katsir t : “Yang dimaksudkan dlm ayat di atas adalah Hawa. Allah I menciptakannya dari Adam, dari tulang rusuk kirinya yang paling pendek. Seandainya Allah I menciptakan anak Adam semuanya lelaki sedangkan wanita diciptakan dari jenis lain, bisa dari jenis jin atau hewan, niscaya tak akan tercapai kesatuan hati di antara mereka dgn pasangannya. Bahkan sebaliknya, akan saling menjauh. Namun termasuk kesempur-naan rahmat-Nya kepada anak Adam, Allah I menjadikan istri-istri atau pasangan hidup mereka dari jenis mereka sendiri, & Allah I tumbuhkan mawaddah yaitu cinta & rahmah yakni kasih sayang. Karena seorang lelaki atau suami, ia akan senantiasa menjaga istrinya agar tetap dlm ikatan pernikahan dengannya. Bisa karena ia mencintai istrinya tersebut, karena kasihan kepada istrinya yang telah melahirkan anak untuknya, atau karena si istri membutuh-kannya dari sisi kebutuhan belanja (biaya hidupnya), atau karena kedekatan di antara keduanya, & sebagainya.” (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1052)
Mawaddah & rahmah ini muncul karena di dlm pernikahan ada faktor-faktor yang bisa menumbuhkan dua perasaan tersebut. Dengan adanya seorang istri, suami dapat merasakan kesenangan & kenikmatan, serta mendapat-kan manfaat dgn adanya anak & mendidik mereka. Di samping itu, ia merasakan ketenangan, kedekatan & kecenderungan kepada istrinya. Sehingga secara umum tak didapatkan mawaddah & rahmah di antara  sesama manusia sebagaimana mawaddah & rahmah yang ada di antara suami istri. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 639)
Allah I tumbuhkan mawaddah & rahmah tersebut setelah pernikahan dua insan. Padahal mungkin sebelumnya pasangan itu tak saling mengenal & tak ada hubungan yang mungkin menyebabkan adanya kasih sayang, baik berupa hubungan kekerabatan ataupun hubungan rahim. Al-Hasan Al-Bashri, Mujahid, & ‘Ikrimah rahimuhumullah berkata: “Mawaddah adalah ibarat/kiasan dari nikah (jima‘) sedangkan rahmah adalah ibarat/kiasan dari anak.” Adapula yang berpendapat, mawaddah adalah cinta seorang suami kepada istrinya, sedangkan rahmah adalah kasih sayang suami kepada istrinya agar istrinya tak ditimpa kejelekan. (Ruhul Ma’ani 11/265, Fathul Qadir 4/263)
Cinta Suami Istri
adalah Anugerah Ilahi
Rasa cinta yang tumbuh di antara suami istri adalah anugerah dari Allah I kepada keduanya, & ini merupakan cinta yang sifatnya tabiat. Tidaklah tercela orang yang senantiasa memiliki rasa cinta asmara kepada pasangan hidupnya yang sah. Bahkan hal itu merupakan kesempurnaan yang semestinya disyukuri. Namun tentunya selama tak melalaikan dari berdzikir kepada Allah I, karena Allah I berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian & anak-anak kalian melalaikan kalian dari zikir/mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Al-Munafiqun: 9)
“Laki-laki yang tak dilalaikan oleh perniagaan & tak pula oleh jual beli dari mengingat Allah… “ (An-Nur: 37) (Ad-Da`u wad Dawa`, Ibnul Qayyim, hal. 293, 363)
Juga, cinta yang merupakan tabiat manusia ini tidaklah tercela selama tak menyibukkan hati seseorang dari kecintaan kepada Allah I sebagai Dzat yang sepantasnya mendapat kecintaan tertinggi. Karena Dia Yang Maha Agung mengancam dlm firman-Nya :
“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah & Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah: 24)
Kecintaan kepada Istri
  Rasullahn, makhluk Allah I yang paling mulia & sosok yang paling sempurna, dianugerahi rasa cinta kepada para istrinya. Beliau nyatakan dlm sabdanya:
“Dicintakan kepadaku dari dunia kalian1, para wanita (istri) & minyak wangi, & dijadikan penyejuk mataku di shalat.”2
Ketika Rasulullah n ditanya oleh shahabatnya yang mulia, ‘Amr ibnul ‘Ash z:
“Siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab: “Aisyah.”
Aku (‘Amr ibnul Ash) berkata: “Dari kalangan lelaki?”
“Ayahnya (Abu Bakar),” jawab beliau.3
Dan beliau n berkata membela & memuji Khadijah bintu Khuwailid x  ketika ‘Aisyah x cemburu kepadanya:
“Sesungguhnya aku diberi rizki yaitu mencintainya.” 4
Rasulullah n pun pernah ingin menjadi perantara & penolong seorang suami yang sangat mencintai istrinya utk tetap mempertahankan istri yang dicintainya dlm ikatan pernikahan dengannya. Namun si wanita enggan & tetap memilih utk berpisah, sebagaimana kisah Mughits & Barirah. Barirah5 adalah seorang sahaya milik salah seorang dari Bani Hilal. Sedangkan suaminya Mughits adalah seorang budak berkulit hitam milik Bani Al-Mughirah. Barirah pada akhirnya merdeka, sementara suaminya masih berstatus budak. Ia pun memilih berpisah dgn suaminya diiringi kesedihan Mughits atas perpisahan itu. Hingga terlihat Mughits berjalan di belakang Barirah sembari berlinangan air mata hingga membasahi jenggotnya, memohon kerelaan Barirah utk tetap hidup bersamanya. Rasulullah n berkata kepada paman beliau, Al-’Abbas z:
“Wahai paman, tidakkah engkau merasa takjub dgn rasa cinta Mughits pada Barirah & rasa benci Barirah terhadap Mughits?”
Nabi n berkata kepada Barirah: “Seandainya engkau kembali kepada Mughits.” Barirah bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkan aku?”
“Tidak,” kata Rasulullah, “Akan tetapi aku hanya ingin menolongnya.”
“Aku tak membutuhkannya,” jawab Barirah.6
Tiga Macam Cinta Menurut
Al-Imam Ibnul Qayyim t
Perlu diketahui oleh sepasang suami istri, menurut Al-Imam Al-’Allamah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakar yang lebih dikenal dgn Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah  t,,, ada tiga macam cinta dari seorang insan kepada insan lainnya:
Pertama: Cinta asmara yang merupakan amal ketaatan. Yaitu cinta seorang suami kepada istri atau budak wanita yang dimilikinya. Ini adalah cinta yang bermanfaat. Karena akan mengantarkan kepada tujuan yang disyariatkan Allah I dlm pernikahan, akan menahan pandangan dari yang haram & mencegah jiwa/hati dari melihat kepada selain istrinya. Karena itulah, cinta seperti ini dipuji di sisi Allah I & di sisi manusia.
Kedua: Cinta asmara yang dibenci Allah I & akan menjauhkan dari rahmat-Nya. Bahkan cinta ini paling berbahaya bagi agama & dunia seorang hamba. Yaitu cinta kepada sesama jenis, seorang lelaki mencintai lelaki lain (homo) atau seorang wanita mencintai sesama wanita (lesbian). Tidak ada yang ditimpa bala dgn penyakit ini kecuali orang yang dijatuhkan dari pandangan Allah I, hingga ia terusir dari pintu-Nya & jauh hatinya dari Allah I. Penyakit ini merupakan penghalang terbesar yang memutuskan seorang hamba dari Allah I. Cinta yang merupakan musibah ini merupakan tabiat kaum Luth u hingga mereka lebih cenderung kepada sesama jenis daripada pasangan hidup yang Allah I tetapkan utk mereka. Allah I mengabarkan:
“Demi umurmu (ya Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dlm kemabukan.” (Al-Hijr: 72)
Obat dari penyakit ini adalah minta tolong kepada Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, berlindung kepada-Nya dgn sebenar-benarnya, menyibukkan diri dgn berdzikir/mengingat-Nya, mengganti rasa itu dgn cinta kepada-Nya & mendekati-Nya, memikirkan pedihnya akibat yang diterima karena cinta petaka itu & hilangnya kelezatan karena cinta itu. Bila seseorang membiarkan jiwanya tenggelam dlm cinta ini, maka silahkan ia bertakbir seperti takbir dlm shalat jenazah7. Dan hendaklah ia mengetahui bahwa musibah & petaka telah menyelimuti & menyelubunginya.
Ketiga: Cinta yang mubah yang datang tanpa dapat dikuasai. Seperti ketika seorang lelaki diceritakan tentang sosok wanita yang jelita lalu tumbuh rasa suka di hatinya. Atau ia melihat wanita cantik secara tak sengaja hingga hatinya terpikat. Namun rasa suka/ cinta itu tak mengantarnya utk berbuat maksiat. Datangnya begitu saja tanpa disengaja, sehingga ia tak diberi hukuman karena perasaannya itu. Tindakan yang paling bermanfaat utk dilakukan adalah menolak perasaan itu & menyibukkan diri dgn perkara yang lebih bermanfaat. Ia wajib menyembunyikan perasaan tersebut, menjaga kehormatan dirinya (menjaga ‘iffah) & bersabar. Bila ia berbuat demikian, Allah I akan memberinya pahala & menggantinya dgn perkara yang lebih baik karena ia bersabar karena Allah I & menjaga ‘iffah-nya. Juga karena ia meninggalkan utk menaati hawa nafsunya dgn lebih mengutamakan keridlaan Allah I & ganjaran yang ada di sisi-Nya. (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 370-371)
Bila cinta kepada pasangan hidup, kepada suami atau kepada istri, merupakan perkara kebaikan, maka apa kiranya yang mencegah seorang suami atau seorang istri utk mencintai, atau paling tak belajar mencintai teman hidupnya?
Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.
Catatan Kaki:
1 Tiga perkara ini (wanita, minyak wangi & shalat) dinyatakan termasuk dari dunia. Maknanya adalah: ketiganya ada di dunia. Kesimpulannya, beliau menyatakan bahwa dicintakan kepadaku di alam ini tiga perkara, dua yang awal (wanita & minyak wangi) termasuk perkara tabiat duniawi, sedangkan yang ketiga (shalat) termasuk perkara diniyyah (agama). (Catatan kaki Misykatul Mashabih 4/1957, yang diringkas dari Al-Lam’aat, Abdul Haq Ad-Dahlawi)
2 HR. Ahmad 3/128, 199, 285, An-Nasa`i no. 3939 kitab ‘Isyratun Nisa’ bab Hubbun Nisa`. Dihasankan Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t dlm Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain (1/82)
3 HR. Al-Bukhari no. 3662, kitab Fadha`il Ashabun Nabi n, bab Qaulin Nabi n : “Lau Kuntu Muttakhidzan Khalilan” & Muslim no. 6127 kitab Fadha`ilush Shahabah, bab Min Fadha`il Abi Bakar Ash-Shiddiq z.
4 HR. Muslim no. 6228 kitab Fadha`ilus Shahabah, bab Fadha`il Khadijah Ummul Mu`minin x
5 Disebutkan bahwa Barirah memiliki paras yang cantik, tak berkulit hitam. Beda halnya dgn Mughits, suaminya. Barirah menikah dgn Mughits dlm keadaan ia tak menyukai suaminya. Dan ini tampak ketika Barirah telah merdeka, ia memilih berpisah dgn suaminya yang masih berstatus budak. Dimungkinkan ketika masih terikat dlm pernikahan dgn suaminya, Barirah memilih bersabar di atas hukum Allah I walaupun ia tak menyukai suaminya. Dan ia tetap tak menampakkan pergaulan yang buruk kepada suaminya sampai akhirnya Allah I memberikan kelapangan & jalan keluar baginya. (Fathul Bari, 9/514)
6 Lihat hadits dlm Shahih Al-Bukhari no. 5280-5282, kitab Ath-Thalaq, bab Khiyarul Amati Tahtal ‘Abd & no. 5283, bab Syafa’atun Nabi n fi Zauji Barirah.
7 Artinya dia telah mati

Senin, 03 Februari 2014

MUSIBAH DATANG KARNA KITA ALFA PADA ALLAH

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
Segala puji hanya milik Allah, sesungguhnya kita hanyalah hamba yang kecil dan lemah, yang diciptakan oleh Allah Subhanallahu wa Ta,ala. Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa tersebut adalah mendatangkan bencana dan musibah. Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.


maksiat dan dosa penyebab datangnya musibah
Maksiat dan dosa merupakan sesuatu yang wajib untuk dihindari oleh seorang muslim, memang seorang masnusia itu tidak luput dari kesalahan dan dosa, tetapi kita sebagai manusia yang beriman kepada Allah, Rosul-NYA, dan Hari akhir harus berusaha sekuat mungkin agar terhindar dari segala dosa dan maksiat

Allah berfirman:
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)
Sehingga untuk kita yang ingin bertaubat, jangan menunda taubatnya, karena untuk orang-orang yang benar-benar serius ingin bertaubat, dan tidak ingin mengulangi dosa dan kesalahan yang diperbuatnya, maka untuk orang-orang yang seperti ini, Allah akan mengampuni kesalahan dosa yang diperbuatnya, karena Allah maha pengampun untuk hamba-hambanya yang serius ingin bertaubat.

Seorang sahabat Nabi yang mulia ‘Ali bin Abi Tholib –radhiyallahu ‘anhu- juga mengatakan,
“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (perkataan ini dinukil dari dalam kitab Al Jawabul Kaafi, hal. 87)

Perkataan ‘Ali –radhiyallahu ‘anhu- di sini selaras atau semakna dengan firman Allah Ta’ala,
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

Sehingga para ulama salaf (terdahulu), yaitu seperti generasi para sahabat, Tabi'in, dan Tabi'ut Tabi'in serta orang-orang yang berada di jalan mereka yaitu jalan yang lurus, mereka mengatakan yang serupa dengan perkataan di atas.

Sepeeri salah satunya ulama yang hidup pada abad ke-8 Hijriah yang bernama Ibnu Qoyyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan,
“Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.” (kitab Al Jawabul Kaafi, hal. 87)

Seorang ulama Ibnu Rojab Al Hambali –rahimahullah- juga mengatakan,
“Tidaklah disandarkan suatu kejelekan (kerusakan) melainkan pada dosa karena semua musibah, itu semua disebabkan karena dosa.” (Latho’if Ma’arif, hal. 75)

Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap hamba merenungkan hal ini. Ketahuilah bahwa setiap musibah yang menimpa kita dan datang menghampiri negeri ini, itu semua disebabkan karena dosa dan maksiat yang kita perbuat.

Betapa banyak kesyirikan merajalela di mana-mana, dengan bentuk tradisi ngalap berkah, memajang jimat untuk memperlancar bisnis dan karir, mendatangi kubur para wali untuk dijadikan perantara dalam berdoa.

Juga kaum muslimin tidak bisa lepas dari tradisi yang membudaya yang berbau agama, namun sebenarnya tidak ada tuntunan sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masih banyak yang enggan meninggalkan tradisi perayaan kematian tertentu.

Ulama telah sepakat –sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qoyyim- bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa besar yang lainnya yaitu lebih besar dari dosa berzina, berjudi dan minum minuman keras. Na’udzu billah min dzalik.

Begitu juga perzinaan dan perselingkuhan semakin merajalela di akhir-akhir zaman ini. Itulah berbagai dosa dan maksiat yang seringkali diterjang. Itu semua mengakibatkan berbagai nikmat lenyap dan musibah tidak kunjung hilang.

Agar berbagai nikmat tidak lenyap, agar terlepas dari berbagai bencana dan musibah yang tidak kunjung hilang, hendaklah setiap hamba memperbanyak taubat yang nasuha (yang sesungguhnya). Karena dengan beralih kepada ketaatan dan amal sholeh, musibah tersebut akan hilang dan berbagai nikmat pun akan datang menghampiri.

Allah Ta’ala berfirman,
“(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni'mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri , dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Anfaal: 53)
Lalu pada surat Ar-Ro'du Allah juga berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar Ro’du: 11)
Semoga Artikel tentang maksiat dan dosa menyebabkan datangnya bencana ini diberkahi oleh Allah dan dapat untuk kita semua bermanfaat agar menjadi orang-orang yang menjauhi maksiat dan dosa.
Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

CARA MERAIH KEBAHAGIAAN HIDUP




Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
Meraih Kebahagiaan hidup bukan dengan Harta - Apa keinginan tertinggi manusia dalam kehidupan ini? Tentunya kita dan semua manusia dengan akan menjawab: kebahagiaan hidup. Ya, kebahagiaan hiduplah yang kita cari dalam kehidupan ini.Tetapi apakah anda sudah sukses mencari kebahagiann hidup tersebut? maka kebanyakan manusia akan ragu-ragu untuk menjawab "ya". Kebanyakan manusia menyakan bahwa dirinya belum bahagia, Mengapa?



Cara:

Kebanyakan manusia menilai dengan kebodohannya bahwa kebahagiaan dan ketenangan hidup diraih dengan mengumpulkan harta dan kedudukan duniawi sebanyak-banyaknya, sebagai akibat dari kuatnya dominasi hawa nafsu dan pemikiran materialistis dalam diri mereka. Karena yang menciptakan kita, Allah berfirman:
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (nampak) dari kehidupan dunia, sedangkan tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai” (QS ar-Ruum:7).

Renungkanlah sabda Rasulullah berikut ini:
“Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan (akan merusak agama) kalian, akan tetapi yang aku takutkan bagi kalian adalah jika (perhiasan) dunia dibentangkan (dijadikan berlimpah) bagi kalian sebagaimana (perhiasan) dunia dibentangkan bagi umat (terdahulu) sebelum kalian."

Maka kalianpun berambisi dan berlomba-lomba mengejar dunia sebagaimana mereka berambisi dan berlomba-lomba mengejarnya, sehingga (akibatnya) dunia/harta itu membinasakan kalian sebagaimana dunia membinasakan mereka”.
[Hadist Riwayat Shahih al-Bukhari (no. 2988) dan Muslim (no. 2961)]

Perkataan diatas bukanlah perkataan manusia biasa, tetapi itu merupakan sabda Rosululloh yang mulia. Tahulah kita bahwa yang dikhawatirkan Rosululloh terhadap kita semua bukanlah kemiskinan yang merajalela tetapi harta perhiasan dunia yang dilimpahkan secara berlebihan kepada kita semua. Mari kita mendengarkan Hadist lainnya, Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah pada umatku adalah harta”.

Tahulah kita kembali, bahwa mencari dan menumpuk harta secara berlebihan telah menyibukkan diri kita dari melaksanakan ketaatan kepada Allah dan membuatnya lupa kepada akhirat. Inilah awal petaka kesengsaraan manusia.

Awal petaka kesengsaraan manusia yaitu hilangnya ketaatan kepada Allah, lupa kepada yang menciptakan kita, Allah, lupa kepada kehidupan akhirat. Hal ini disebabkan tidak lain karena diri kita tersibukkan dengan menumpuk harta.

Ya, apa yang kita lakukan selama ini (menumpuk harta) ternyata adalah awal petaka kesengsaraan hidup kita semua. Apakah kita tidak boleh mencari harta? Maka jawabanya adalah Boleh bahkan diwaibkan untuk melangsungkan kehidupan kita di dunia ini. Adapun dimaksudkan diatas adalah tercelanya mencari harta yang belebihan kemudian menumpuknya sehingga itu menyibukan jiwa dari ketaatan dan mengingat Allah.

Sehingga kesimpulannya yang didapat, mungkinkah seseorang akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidupnya kalau sifat yang merupakan sumber kebinasaan dan kesengsaraan ini selalu ada pada dirinya?

Adapun alangkah baiknya mencari harta dengan tujuan melangsungkan kehidupan kita di dunia ini, bukan menumpuk harta berlebihan yang kita tidak membutuhkan-nya sebenarnya. Gunakan waktu tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah. Caranya dengan menghayati dan memaknai dengan segenap hati lantunan ayat-ayat Al-qur’an, berdzikir (mengingat) kepada Allah, mengingat kehidupan akhirat yang berjuta, miliyar, triliun lebih indah dibanding kehidupan dunia yang sebentar ini.

 

Sehingga janganlah menjadi orang yang tidak pernah merasa cukup dengan harta dunia yang kita miliki. Yang mengakibatkan tenaga dan pikirannya akan terus terkuras untuk mengejar ambisi tersebut, dan ini merupakan siksaan besar bagi dirinya di dunia, sebelum siksaan yang lebih besar di akhirat nanti.
Imam Ibnul Qayyim (merupakan ulama cerdas beberapa ratus tahun lalu) berkata: “Orang yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (kerusakan dan penderitaan):


1. Kekalutan (pikiran) yang tidak pernah hilang,
2. keletihan yang berkepanjangan (terus-menerus)
3. penyesalan yang tiada akhirnya.

 

[Lihat dalam keterangan imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Igaatsatul lahfan” (hal. 84 – Mawaaridul amaan)]

Dalam hal ini, salah seorang ulama juga berkata: “Barangsiapa yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) maka hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam penderitaan”.


[Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Igaatsatul lahfan” (hal. 83 – Mawaaridul amaan)]

Semoga Artikel tentang cara mendapatkan kebahagiaan hidup sebenarnya, yang tentunya kebahagiaan hidup ini bukan diraih dengan banyaknya harta,